Inspirasi

PATUNGAN SAPI NIAT TUJUANNYA BERBEDA

PATUNGAN SAPI NIAT TUJUANNYA BERBEDA 

Apakah boleh jika 7 orang patungan membeli seekor sapi dan 7 orang tersebut niatnya beda-beda seperti ada yang untuk qurban dan ada yang untuk aqiqoh?

Jawaban

Diperboleh kan, meskipun niat tujuannya berbeda seperti ada yang untuk kurban, untuk hadyu untuk ibadah lain (seperti aqiqoh) bahkan meskipun untuk sembelihan biasa.

Dan setelah di sembelih, baru daging dibagikan ke 7 orang tadi dan masing-masing tinggal menggunakan sesuai tujuannya. Semisal qurban berarti sebagaimana membagi daging kurban seperti wajib mentah dll.

Jika aqiqoh maka sunah membagi matang dan mentah juga tidak masalah untuk keabsahannya.

Referensi

١. [البجيرمي ,حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب ,٤/٣٣٣]

(وَتُجْزِئُ الْبَدَنَةَ) عِنْدَ الِاشْتِرَاكِ فِيهَا (عَنْ سَبْعَةٍ) لِمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ عَنْ جَابِرٍ - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ - قَالَ: «خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مُهِلِّينَ بِالْحَجِّ فَأَمَرَنَا أَنْ نَشْتَرِكَ فِي الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ كُلُّ سَبْعَةٍ مِنَّا فِي بَدَنَةٍ» وَسَوَاءٌ اتَّفَقُوا فِي نَوْعِ الْقُرْبَةِ أَوْ اخْتَلَفُوا كَمَا إذَا قَصَدَ بَعْضُهُمْ التَّضْحِيَةَ وَبَعْضُهُمْ الْهَدْيَ وَكَذَا لَوْ أَرَادَ بَعْضُهُمْ اللَّحْمَ، وَبَعْضُهُمْ الْأُضْحِيَّةَ وَلَهُمْ قِسْمَةُ اللَّحْمِ لِأَنَّ قِسْمَتَهُ قِسْمَةُ إفْرَازٍ عَلَى الْأَصَحِّ كَمَا فِي الْمَجْمُوعِ. (وَ) كَذَا الْبَقَرَةُ تُجْزِئُ (عَنْ سَبْعَةٍ) لِلْحَدِيثِ الْمَارِّ. تَنْبِيهٌ:

لَا يَخْتَصُّ إجْزَاءُ الْبَدَنَةِ وَالْبَقَرَةِ عَنْ سَبْعَةٍ بِالتَّضْحِيَةِ، بَلْ لَوْ لَزِمَ شَخْصًا سَبْعُ شِيَاهٍ بِأَسْبَابٍ مُخْتَلِفَةٍ كَالتَّمَتُّعِ وَالْقِرَانِ وَالْفَوَاتِ وَمُبَاشَرَةِ مَحْظُورَاتِ الْإِحْرَامِ جَازَ عَنْ ذَلِكَ بَدَنَةٌ أَوْ بَقَرَةٌ.

Artinya:

(Dan mencukupi seekor unta) ketika berserikat padanya (untuk tujuh orang), berdasarkan hadis yang diriwayatkan Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah ﷺ dalam keadaan berihram untuk haji. Lalu beliau memerintahkan kami agar berserikat dalam unta dan sapi, setiap tujuh orang dari kami dalam satu ekor unta.”

Dan sama saja, apakah mereka sepakat dalam jenis qurbah atau berbeda, seperti ketika sebagian mereka berniat berkurban dan sebagian lain berniat hadyu. Demikian juga jika sebagian mereka menginginkan daging dan sebagian lain berniat kurban. Mereka boleh membagi dagingnya, karena pembagiannya adalah pembagian ifraz menurut pendapat yang paling sahih, sebagaimana disebutkan dalam Al-Majmu’.

(Dan) demikian juga seekor sapi mencukupi (untuk tujuh orang) berdasarkan hadis yang telah lewat.

Kebolehan seekor unta dan sapi mencukupi untuk tujuh orang tidak khusus untuk kurban saja. Bahkan, jika seseorang diwajibkan menyembelih tujuh ekor kambing karena sebab-sebab yang berbeda, seperti tamattu’, qiran, fawat, dan melakukan hal-hal yang dilarang saat ihram, maka mencukupi untuk itu semua dengan seekor unta atau sapi.

[Al-Bujairimi, Hasyiyah al-Bujairimi ‘ala al-Khatib = Tuhfah al-Habib ‘ala Syarh al-Khatib, 4/333]

٢. [تقي الدين الحصني، كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار، صفحة ٥٣٥]

وَيسْتَحب أَن لَا يتَصَدَّق بِهِ نيئاً بل مطبوخاً على الْأَصَح وَيسْتَحب طبخه بحلو على الْأَصَح تفاؤلاً بحلاوة أَخْلَاق الْمَوْلُود

"Disunnahkan agar daging akikah tidak disedekahkan dalam keadaan mentah, melainkan dalam keadaan sudah dimasak menurut pendapat yang lebih sahih. Disunnahkan juga agar daging tersebut dimasak dengan bahan yang manis menurut pendapat yang lebih sahih, sebagai bentuk tafaul agar akhlak anak yang baru lahir menjadi manis."

[Taqiyuddin al-Husni, Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar, halaman 535]

٣. [سعيد باعشن، شرح المقدمة الحضرمية المسمى بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم، صفحة ٧٠٠]

ويجب أن يعطيه (نيئاً) طرياً لا مطبوخاً ولا قديداً لمسلم حر أو مبعض في نوبته، أو مكاتب -والمعطي غير سيده- فقير أو مسكين ولو واحداً، ولا يكفي جعله طعاماً ودعاء المسكين أو إرساله إليه؛ لأن حقه في تملكه لا في أكله

"Wajib menyerahkan daging kurban dalam keadaan mentah dan segar, bukan dalam keadaan sudah dimasak ataupun dikeringkan. Penyerahan itu harus kepada orang Islam yang merdeka, atau orang yang sebagian merdeka pada gilirannya, atau mukatab -dengan syarat yang memberi bukan tuannya sendiri-. Penerimanya adalah orang fakir atau miskin, meskipun hanya satu orang.

Tidak cukup jika daging itu hanya dimasak lalu dijamu untuk orang miskin, atau hanya dikirimkan kepadanya. Sebab hak orang miskin adalah memiliki daging itu secara penuh, bukan sekadar memakannya."

[Sa‘id Ba‘asyin, Syarh al-Muqaddimah al-Hadramiyyah al-Musamma Bisyra al-Karim bi Syarh Masail al-Ta‘lim, halaman 700]

٤. [البكري الدمياطي، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، ٣٧٩/٢]

(قوله: وله إطعام أغنياء) أي إعطاء شئ من الأضحية لهم، سواء كان نيئا أو مطبوخا كما في التحفة، والنهاية ويشترط فيهم أن يكونوا من المسلمين.

أما غيرهم فلا يجوز إعطاؤهم منها شيئا.

"Ucapan penulis: 'Dan baginya boleh memberi makan orang-orang kaya' maksudnya adalah memberikan sebagian dari daging kurban kepada mereka. Pemberian itu boleh dalam keadaan mentah maupun sudah dimasak, sebagaimana disebutkan dalam Tuhfah dan Nihayah. 

Disyaratkan bagi orang-orang kaya tersebut bahwa mereka harus beragama Islam. Adapun selain orang Islam, maka tidak boleh memberikan sedikit pun dari daging kurban kepadanya."

[Al-Bakri Ad-Dimyathi, I‘anatut Thalibin ‘ala Hall Alfazh Fathil Mu‘in, 2/379]

والله أعلم بالصواب